Relawan atau Sukarelawan | Denni Meilizon -->

Relawan atau Sukarelawan | Denni Meilizon

Monday, 6 July 2020

Denni Meilizon ,Penulis ,Penyair ,Pembaca buku YouTuber.
Denni Meilizon ,Penulis ,Penyair ,Pembaca buku, dan YouTuber.

Ditulis oleh Denni Meilizon
KONON beberapa acara di televisi diramaikan oleh para penonton bayaran. Jadi begini, yang namanya konten acara televisi, semua komponen merupakan bagian penting kesuksesan acara. Selain tim kreatif yang memang dipilih dari orang-orang yang ditugaskan untuk selalu memutar otak agar dapat menyuguhkan acara yang disukai penonton lalu memperoleh rating tinggi, kemudian para penampil acara yang biasanya terdiri dari orang-orang ternama semacam artis atau publik figur dan tentunya penonton. 

Ya, penonton. Bangku tribun yang terisi penuh, tepuk tangan membahana, kemeriahan teriakan dan riuh sorak sorai diperlukan sebagai pemicu agar penonton di rumah tetap betah menongkrongi acara sampai selesai. Bayangkan, di sebuah stasiun televisi ada acara show berformat live (langsung) dengan durasi panjang hampir 5 jam menggulung prime time hingga larut malam. Orang - orang mengabaikan rasa ngantuk dan tidak rela meninggalkan episode demi episode saban malam. Acara yang mempengaruhi pola tidur masyarakat itu konon merupakan satu-satunya acara yang ratingnya paling tinggi, tetapi acara lainnya nyungsep, hanya sebagai pengisi jadwal siaran saja agar stasiunnya tidak bubar jalan. 

Penonton bayaran merupakan bentuk bisnis yang muncul dari konsumerisme di dunia media. Bisnis ini di dalam dunia pertunjukan televisi merambah ke mana-mana. Anda tahu ajang bergengsi Piala Oscar? Nah, ajang internasional kelas berat itu memakai penonton bayaran untuk mengisi kursi-kursi kosong. Wah, untuk ajang mewah genjreng tersebut sih ga dibayarpun saya mau saja jika diminta untuk menonton. Untuk setiap penonton konon lagi, bayarannya jika dirupiahkan sekitar sejuta dua ratus ribu rupiah per jamnya. Menggiurkan bukan? 

Gimana ya ditulis kolom pekerjaan dalam KTP jika pekerjaan kita adalah Penonton bayaran? Atau boleh juga nih jika cita - cita anak-anak kita jadi Penonton Bayaran saja. Mau? 

***

TIDAK, kita tidak sedang ingin membicarakan penonton bayaran. Penonton bayaran dalam tulisan ini hanyalah pembuka pembicaraan saja. Semacam lagu kebangsaan yang dinyanyikan di setiap pembukaan acara agar jiwa nasionalisme kita tetap membahana terjaga. Begitulah, pembukaan tulisan ini pun demikian, saya ke depankan dulu soal penonton bayaran agar pembicaraan kita berikutnya dapat terjiwai dan enak dibincangkan. 

Sebetulnya saya ingin membicarakan tentang relawan. Ternyata kata "relawan" tidak dikenal  dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di dalam kamus besar itu yang dikenal adalah istilah "sukarelawan" yang berarti  sukarelawan/su·ka·re·la·wan/ /sukarélawan/ n _orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan). Jadi bagaimana bisa alih-alih istilah sukarelawan yang terpakai dalam komunikasi sehari-hari malah istilah relawanlah yang kemudian jadi populer? 

Menurut Nababan (2008:35), ada tiga imbuhan yang merupakan serapan dari bahasa Sansekerta yaitu man, wati dan wan yang mempunyai sejumlah makna yaitu bermakna orang yang ahli disuatu bidang, orang yang mempunyai sifat tertentu, serta orang (laki-laki atau perempuan) yang mempunyai pekerjaan dibidang tertentu. Ketiga makna tersebut bisa terbentuk bila imbuhan-imbuhan tersebut dibubuhkan pada suatu jenis-jenis kata tertentu.

Sukarelawan sendiri dibentuk oleh dua kata "suka" dan "rela". Menurut KBBI, kata "suka" merupakan kata sifat dengan "rela" sebagai kata kerjanya. Suka /su·ka / 1 a berkeadaan senang (girang): sahabat dalam -- dan duka; 2 a girang hati; senang hati: sekalian bantuan dan sokongan disambut dengan -- hati; 3 v mau; sudi; rela. Apa artinya? 

Kegirangan seseorang merupakan kunci agar dirinya rela hati mengerjakan sesuatu. Lawan dari hal ini tentu saja adalah terpaksa. Banyak hal yang dipaksakan terjadi dan hasilnya selalu tidak baik. Tidak baik? Ya, walaupun dalam beberapa kasus, keterpaksaan dibungkus dengan kepasrahan sebab tidak ada jalan untuk melawan ataupun hati tidak dapat rela untuk menyukai. Kecuali, jika dalam guyon ada orang yang dipaksa untuk jadi kaya atau dipaksa untuk menikahi gadis cantik, seksi dan kaya raya. Itu lain cerita. Dunia guyon hanya untuk menertawakan satire yang terjadi, di dunia nyata langka terjadi. 

Demikian saya memahami kenapa kerancuan bisa terjadi kemudian ketika memahami istilah "relawan". Masih banyak juga orang yang mempertanyakan relawan itu apa? Agar tidak rancu sebaiknya pakailah istilah "sukarelawan" agar pekerjaan mulia itu tidak bergeser nilai dan makna. Sukarelawan boleh siapa saja dan tidak harus menjadi lembaga. Seseorang yang menyeberangkan nenek-nenek di jalan raya adalah sukarelawan. Begitu pula mereka yang bergerak dibidang sosial merupakan sukarelawan. Syaratnya mereka atau dia yang membantu nenek-nenek menyeberangi jalan harus melakukannya dengan riang, bahagia dan suka. Suka melakukan pekerjaan baik itu. Apakah semua pekerjaan sukarelawan adalah baik? Merujuk pengertian yang disajikan KBBI sesungguhnya dalam pekerjaan jahat pun ada sukarelawan. Hanya saja kemurnian hati manusia pada sesungguhnya lebih cenderung kepada kebaikan belaka. Dibutuhkan cara tertentu agar seseorang mau menjadi sukarelawan bagi pekerjaan jahat misalnya dengan melakukan cuci otak. 

Sukarelawan menurut hemat saya adalah sisi lain manusia yang hidup dalam masyarakat sosial. Sifat dan pekerjaan ini dibutuhkan demi melanggengkan pertumbuhan masyarakat yang dinamis, berkembang dan beradab. Namun demikian benarkah jika sukarelawan tidak harus berujung uang dan materi? 

*** 
PENONTON BAYARAN merupakan sukarelawan. Siapa yang tidak suka dan rela melakukan pekerjaan semacam penonton bayaran? Uang dapat, candu lepas. Tetapi acara televisi merupakan bisnis. Penyelenggara bakal dapat untung dari acara tersebut. Memperoleh bayaran untuk pekerjaan bersifat bisnis tentu lumrah saja. Bodoh sekali jika ada orang yang sukarela membantu bisnis orang lain dimana yang ditolong memperoleh keuntungan sedangkan yang jadi sukarelawan mendapat lelahnya saja. Atau ada orang tolol begitu? 

Pengecualian terhadap semua kerja sosial, sepanjang kemaslahatan ummat dan mencari pahala amal baik, menjadi sukarelawan adalah soal pilihan. Apalagi dalam ajang pemilihan umum akan marak dibentuk kelompok yang dilabeli relawan (yang benar "sukarelawan"). Bagaimana kalian memandang pasangan calon yang diusung, apakah kalian bakal membantu mereka memperkaya dirinya atau kalian memandang mereka sebagai jiwa-jiwa yang dikirim Tuhan untuk memperbaiki nasib kalian dan masyarakat demi mencapai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan sejahtera berkeadilan sosial lahir bathin?
Kembali kepada apa yang ada dalam kepala dan dalam dada masing-masing. 

*******
Denni Meilizon adalah Penulis, Penyair, YouTuber dan Editor. Tinggal di Simpang Empat Pasaman Barat