Mesin Pencuci Otak VS Mesin Pencuci Otak -->

Mesin Pencuci Otak VS Mesin Pencuci Otak

Sunday, 14 March 2021


SIAPA KADRUN?  Kandrun adalah anggota keluarga kita. Famili kita. Tetangga, orang sekampung, kolega, anggota komunitas kita. Saudara seiman kita. Saudara sebangsa dan setanah air. Warga negara Republik Indonesia yang jumlahnya bisa mencapai puluhan juta. 


APA PENANDA KADRUN?  Umumnya orang mendeskripsikan Kadrun melalui penampilan fisiknya: bercadar, celana cingkrang, baju gamis, berjenggot, atau dengan satu kata berpenampilan ala Arab. Penanda Kadrun seperti itu ada benarnya walau tidak seluruhnya/selalu benar. Banyak orang berpenampilan ala Arab (celana jingkrang, bergamis, berjenggot) semata-mata karena menurut mereka ingin mencontoh Nabi Muhammad SAW. Sedangkan perilaku beragama, berbangsa, dan bernegara sama seperti kita yang Non Kadrun. Sebaliknya, ada banyak yang "karoserinya" seperti kita, tapi pikiran dan perilakunya Kadrun tulen. Oleh sebab itu, penanda utama dari Kadrun utamanya tidak terletak pada penampilan fisiknya tapi pada ideologinya, pada mindset-nya. 

PENCUCIAN OTAK. Orang-orang cerdas yang haus kekuasaan, yang terganggu hegemoninya, secara sistemik dan masif merekrut, terutama generasi muda dengan menerapkan pencucian otak yang biasanya melalui kedok agama. Dari waktu ke waktu mereka dicekoki doktrin-doktrin agama yang diplintir. Orang yang berada dalam situasi frustasi dan tidak memiliki rencana masa depan yang memadai menjadi makanan empuk para pencuci otak. Karena tujuan para pencuci otak tersebut kekuasaan,  maka propaganda tentang tidak beresnya pemerintah mereka dengungkan walau dalam adonan kebencian, hoaks, dan fitnah. Untuk mencapai tujuannya, kerap mereka menghalalkan segala cara dalam bentuk intoleransi, radikal, bahkan teror.  Mereka secara terstruktur menggerogoti keutuhan dan kesatuan bangsa yang berada dalam koridor NKRI, UUD 1945, Pancasila, dan kebhinnekatunggalikaan. 

ANTISIPASI IDEOLOGI KADRUN. Oleh karena ideologi Kadrun menggerogoti keutuhan persatuan bangsa, seluruh rakyat Indonesia dengan berbagai cara mengantisipasi tumbuh kembangnya ideologi kadrun. Masjid-masjid di lingkungan Kementerian BUMN yang disinyalir sebagai sarang Kadrun misalnya, bekerja sama dengan NU untuk melakukan pencerahan pengamalan agama Islam yang benar. Pemerintah juga melakukan pembenahan di masjid, antara lain dengan menerbitkan sertifikasi para da'i, di kampus-kampus dan sekolah yang intinya untuk mencegah penularan sifat intoleransi dan radikalisme di kalangan generasi muda. Bahkan untuk mereka yang telah terpapar radikalisme dan terorisme, pemerintah melaksanakan program rehabilitasi dan pembinaan. 

Amat disayangkan,  gerak langkah yang dilakukan pemerintah belum sinergi dengan kita-kita pencinta NKRI yang berkutat di media sosial. padahal, tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial dewasa ini merupakan salah satu wadah paling ampuh untuk membentuk opini. Untuk pencerahan. Untuk mencuci otak sebagaimana yang dilakukan oleh agitator Kadrun. Saya, disamping punya akun Facebook, juga mengikuti grup Facebook, WAG, dll. Dalam media sosial, para pencinta NKRI, merespon ideologi, pemikiran, perilaku yang dikemukakan Kadrun secara sarkas. Meresponnya dengan ujaran kebencian dan hinaan. Sama dengan apa yang dilontarkan Kadrun kepada kita. Menurut saya, cara seperti ini bukanlah cara yang efektif untuk memerangi Kadrun. Yang perlu dilakukan adalah memapah mindset mereka ke arah mindset yang lurus dan benar. Oleh karena para Kadrun dinyatakan telah mengalami pencucian otak maka cara paling mangkus untuk mengobatinya tentu dengan pencucian otak juga. Lakukan upaya untuk mengubah mindset mereka. 

CUCI OTAK VS CUCI OTAK. Tulisan-tulisan Erizeli Jely Bandaro (Babo) di DDB ini dan Muhamad Abdulkadir Martoprawiro (MAM)  baik di DDB maupun akun fesbuknya, disengaja tidak disengaja,  disadari tidak disadari, diakui tidak diakui oleh yang bersangkutan adalah mesin pencuci otak. Tentu banyak tulisan dari penulis lain yang senada dengan tulisan mereka. Saya terutama mengikuti secara intens tulisan Babo dan MAM. 

Benarkah tulisan-tulisan Babo dan MAM mesin pencuci otak? 
Jawabannya dengan mudah dapat kita peroleh dengan menyigi apresiasi komentator dalam komentar yang mengikuti tulisan-tulisan dimaksud, baik secara tersurat maupun tersirat. "Terima kasih pencerahannya", "tulisan ini menambah wawasan", "izin share" adalah beberapa ungkapan yang mengindikasikan terjadinya pencucian otak. 

Mengapa tulisan-tulisan Babo dan MAM sangat berpotensi untuk mencuci otak?  Untuk membentuk mindset yang lurus dan benar?  Jawabannya,  tentu saja karena tulisan-tulisan tersebut bertolak dari data dan fakta. Dikemas secara argumentatif dan persuasif dalam bahasa yang santun. Mesin pencuci otak Babo dan MAM menggunakan deterjen atau sabun pembersih bak kata Nagabonar: "Mandinya di Lubuk Pakam harumnya tercium sampai di Medan. "

Berkaitan dengan masalah Kadrun yang dinyatakan telah mengalami pencucian otak,  kita harus menetralisirnya juga dengan pencucian otak. Masalah utama kadrun bukanlah pada penampilan fisiknya tapi pada mindset-nya. Oleh karenanya,  respon berupa memojokkan, mencaci-maki, dan menghina mereka bukanlan cara yang efektif. 

Mari kita lakukan "penyerangan" melalui cara-cara bermartabat dan elegan dengan mengetengahkan argumentasi secara persuasif.[]

Padang,  14 Maret 2021
Salam sehat.

*Penulis: Bakhtaruddin Nasution, Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Padang