Society 5.0, Kita Masih Punya Pe - er -->

Society 5.0, Kita Masih Punya Pe - er

Wednesday, 24 March 2021

Oleh: Riri Satria 

SAAT ini eranya society 5.0 atau yang dikenal dengan smart society atau masyarakat cerdas. Berarti peradaban dunia sudah melewati lima fase, yaitu society 1.0 atau food gathering / hunting society, lalu society 2.0 atau agriculture society, kemudian society 3.0 atau industrial society, dilanjutkan dengan society 4.0 atau digital society, dan terakhir society 5.0. 
Riri Satria

Jika ingin memahami lebih mendalam ciri khas society tersebut silakan dicari lewat Google dan akan ditemukan banyak tulisan mengenai hal tersebut. Suka tidak suka, itulah evolusi peradaban di dunia ini. Anda boleh saja tidak setuju bahkan menolak semua ini, namun itulah kenyataannya. 
 
Nah, di dunia ini, kelima bentuk peradaban itu ada! Ada masyarakat di benua Afrika yang masih hidup dengan berburu untuk mendapatkan makanan, dan hidup sangat minim dengan bercocok tanam. Sementara itu di sisi lain, ada masyarakat di belahan dunia lain yang sudah hidup dengan era teknologi modern yang memberi kemudahan dalam hidup atau smart society.
 
Begitu juga dengan kita di Indonesia. Perbedaan itu terjadi. Di kota-kota besar sudah muncul cluster masyarakat dengan ciri khas society 5.0, di mana mereka sudah terbiasa dengan teknologi modern, sistem ekonomi yang tertata, dan sebagainya. Sementara di wilayah lain di negeri ini, masih ada cluster masyarakat yang mungkin kita kategorikan masyarakat tertinggal. Listrik saja tidak ada di desanya, apalagi koneksi internet.
 
Hampir selama setahun terakhir, saya lihat anak saya yang masih bersekolah di SMA, dengan mudahnya dia mengikuti pelajaran dari sekolahnya melalui media daring. Dia tidak mengalami kendala apapun, fasilitas gadget dan bandwidth internet yang memadai, membuat dia bisa mengakses berbagai sumber-sumber belajar di internet. Ya, dia beruntung sudah berada di era smart society (5.0) atau setidaknya digital society (4.0). Tetapi banyak sekali anak-anak yang tidak seberuntung dia. tentu saja anak-anak ini tidak akan mampu mengikuti proses belajar daring seperti ini. Lantas bagaimana? Inilah pe-er kita bersama.
 
Indonesia adalah miniatur dunia tentang hal ini. Jika kita mengunjungi negara miskin di kawasan Afrika, maka kita menemui society 1.0, lalu dalam 5 jam kita terbang ke Eropa Barat, kita menemui society 5.0. Bagaimana di Indonesia? Mereka malahan bisa hidup berdekatan! 
 
Bagaimana solusinya? Tentu saja kita tidak mungkin memperlambat gerak maju anak-anak yang beruntung berada di society 5.0 atas nama pemerataan dan keadilan. Tugas besar kita adalah mempercepat mereka yang masih berada di society 1.0 untuk segera melompat menuju ke era yang lebih maju. Eh, jangan salah, ini bukan berarti kita meninggalkan nilai-nilai kebaikan atau wisdom masyarakat kita lho. Ini semata hanya terkait dengan perkembangan sistem ekonomi dan teknologi. 
 
Jadi kita harus mempercepat gerak langkah mereka yang tertinggal, bukan memperlambat mereka yang sudah mampu berlari cepat. Kita tersadarkan bahwa membangun infrastruktur internet samoai ke pelosok desa itu penting, bahkan membuat sentra kumpul akses internet di balai desa juga penting. 
 
Sekolah harus mengidentifikasi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin, yang tidak punya akses ke internet, sementara kawan-kawannya bisa. Anak-anak dari keluarga miskin ini harus dibantu untuk akses internet, karena akses internet itu sudah menjadi bagian dari mengakses pendidikan. Sementara itu, untuk area yang belum memiliki akses internet dengan baik, apa boleh buat, sekolah harus berjalan dengan classroom learning dengan protokol kesehatan yang ketat. Belajar tidak boleh berhenti, apapun alasannya.
 
Namun, idealnya, menurut saya, kita perlu menerapkan sistem blended learning, yaitu perpaduan berbagai metode belajar. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sudah mencetuskan konsep blended learning ini. Belajar dengan sistem daring semata tentu tidak baik juga, karena akan membuat interaksi sosial di dunia nyata menjadi berkurang. Padahal tujuan belajar juga untuk mengasah kecerdasan sosial dan hidup berdampingan dengan baik.
 
Namun tentu kendalanya adalah kondisi Indonesia, di mana society 1.0 sampai 5.0 ada semua dengan kondisi masing-masing. Ini berarti, kementerian yang mengurusi wilayah tertinggal serta gubernur yang memiliki wilayah tertinggal harus memiliki visi untuk mengakselerasi pembangunan dan memperkecil kesenjangan ini.
 
Ini memang pe-er kita bersama, dan tidak bisa mendapatkan solusi secara instan.[]

Riri Satria, Digital and Creative Economy, Research and Innovation, Poetry and Coffee Lover. Tinggal di Jakarta.