Stay Relevant -->

Stay Relevant

Thursday, 25 March 2021

Oleh : Riri Satria

Saat ini dunia sedang mengalami situasi VUCA, yaitu Volatility (banyak kerentanan untuk perubahan), Uncertainty (banyak ketidakpastian), Complexity (rumit, ruwet, terlalu banyak hal yang terjadi) serta Ambiguity (membingungkan). Ya, ringkasnya kira-kira begitulah VUCA.



















 Ini membuat banyak sekali dinamika dalam kehidupan, terutama ekonomi, teknologi, sosial, budaya, dan sebagainya. Dengan cepat muncul perubahan-perubahan baru tanpa kita sadari. Belum selesai kita memahami sebuah fenomena baru, eh muncul lagi fenomena yang lebih baru! Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini. Tambah sakik kapalo awak!

Tetapi kalau kita pahami words of wisdom tentang hal ini, harusnya kita tidak heran apalagi kaget. "Tidak ada yang abadi di dunia ini, selain perubahan waktu demi waktu". Itulah sebabnya Tuhan memberikan ilmu manajemen perubahan atau change management kepada manusia. Namun kita sering terjebak di zona nyaman atau comfort zone, dan dengan seribu satu alasan, enggan untuk berubah.

Sebagai seorang profesional, bagaimana membuat diri kita tetap kompetitif pada masa VUCA seperti ini? Jawabnya, stay relevant!
Apakah itu stay relevant? Tetap meng-upgrade diri kita supaya tetap memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman. Caranya? Belajar!

Ajaran Agama Islam yang saya anut mengatakan "Tuntutlah ilmu itu sejak dari ayunan sampai dengan memasuki liang lahat". Kalau bahasa kekinian oleh UNESCO adalah life-long learning. Untuk apa? Supaya kita tetap relevan dengan kemajuan zaman.

Saat ini sumber-sumber belajar sangat banyak, bahkan hampir tak terbatas. Ketika kita memasuki rimba internet, maka kita akan terbuka kepada sumber belajar yang seolah tiada habisnya. 

Namun ini kembali kepada diri kita sendiri, apakah menganggp internet ini tempat main-main atau iseng semata, atau menganggapnya sebagai sumber belajar. Tentu saja yang paling penting adalah, apakah kita mau belajar atau tidak?

Jadi belajar itu tidak hanya di bangku sekolah atau kuliah, atau pergi training yang biayanya aduhai mahal. Belajar itu bisa gratis malahan! Silakan masuk ke YouTube, banyak sekali sumber-sumber belajar di sana. Misalnya, saya banyak menemukan video di YouTube yang mengajarkan tentang metodologi penelitian, systems thinking, dan sebagainya. Tentu saja semua harus bersumber dari yang dapat dipertanggung jawabkan atau kredibel.

Bayangkan, jika kita menonton satu video per hari yang berisikan pengetahuan baru, dengan durasi paling lama satu jam, berapa pengetahuan baru yang kita peroleh dalam sebulan? Tetapi kalau hanya dipakai untuk menonton drama Korea semata, ya saya gak mau komen deh.

Dengan duduk sore-sore sambil menikmati kopi dan pisang goreng, kita menyimak YouTube yang berisikan pengetahuan baru sesuai dengan minat kita. Asyik, kan? Ketika sudah selesai dan pas Magrib, pengetahuan kita sudah bertambah satu lagi.

Intinya, saya ingin mengatakan bahwa setiap kita bisa menjadi stay relevant, biayanya tidak mahal kok. Hanya dibutuhkan kemauan untuk selalu belajar dan belajar. Insya Allah kita akan stay relevant.

Beberapa sahabat saya yang penyair juga melakukan hal ini. Mereka menggunakan internet untuk melakukan semacam desk research supaya mampu membuat puisi yang relevan dengan perkembangan zaman. Menulis puisi dengan berdasarkan fakta, namun diolah dengan imajinasi.

Jika kita mau pakai hitung-hitungan ekonomi, maka belajar itu bukanlah biaya atau cost, melainkan investasi. Maka ada istilah ROLI atau Retun On Learning Investment atau ROI of Learning. Intinya, tidak ada yang sia-sia dalam belajar. Bahkan mempelajari sesuatu yang salah pun bisa menambah pengetahuan kita, mana yang benar, mana yang salah, supaya kita tidak terjebak ke dalam kesalahan.

Kalau Anda memang tergolong manusia dengan seribu satu alasan untuk tidak mau maju, ya susah juga. Sinyal internet susah, kuota internet mahal, dan sebagainya... I have no comments for you .. Masalah pasti ada, namun keseriusan dan ketangguhan biasanya akan menemukan solusi untuk setiap masalah.

Ada 10 kelompok manusia menghadapi perubahan, yaitu (1) mereka yang menciptakan perubahan, (2) mereka yang memanfaatkan perubahan, (3) mereka yang sekedar ikut arus perubahan, (4) mereka yang ekedar mengomentari perubahan, (5) mereka yang sekedar menyaksikan perubahan, (6) mereka yang sekedar memimpikan perubahan, (7) mereka yang tidak tahu ada perubahan, (8) mereka yang kebingungan dengan perubahan, (9) mereka yang menolak perubahan, serta (10) mereka yang digilas perubahan.

Kita termasuk yang mana ya?

Stay safe! Stay healthy! .. and stay relevant[]

Riri SatriaDigital and Creative Economy, Research and Innovation, Poetry and Coffee Lover. Tinggal di Jakarta.