Kantor Wali Nagari dan Sala Lauak Ulakan Pariaman -->

Kantor Wali Nagari dan Sala Lauak Ulakan Pariaman

Wednesday, 7 April 2021

Padang Pariaman,(Andalasrayanews.com) - "Kami siap melayani masyarakat dengan ikhlas". BEGITULAH tulisan yang terpampang di atas pintu Kantor Wali Nagari Manggopoh Palak Gadang Ulakan Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat.Tulisan tersebut menarik perhatian kami tim ARN disaat berhenti sejenak untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan dari Kota Padang menuju Pasaman Barat, Selasa malam (6/4/2021). Lapau Teh Talua Tigo Dimensi yang berada persis di halaman Kantor Wali Nagari tersebut menjadi pilihan tempat persinggahan.

Kota Pariaman yang bertetangga dekat dengan Nagari Manggopoh Ulakan, pada hari yang sama juga kedatangan tamu kehormatan yakni Wakil Presiden RI KH.Makhruf Amin. Hal itu menambah rasa penasaran kami terhadap wilayah ini. Seorang Wakil Presiden bisa berkunjung dan sekaligus meresmikan Pasar Rakyat di suatu wilayah di Indonesia (Kota Pariaman,red) itu bukan pekara mudah. Berdiri sebuah bangunan seperti warung yang persis berada di halaman kantor Wali Nagari sehingga menutupi bangunan itu bukan hal yang biasa pula kita jumpai di daerah lain.

"Kenapa sampai bisa sebuah warung bisa berada di sini hingga menutupi kantor ini?" Itulah pertanyaan yang timbul dari kami manakala baru saja duduk di Lapau Teh Talua Tigo Dimensi lalu membicangkan perihal ini diantara tim ARN yang singgah melepas lelah malam itu.

"Yang Disamping itukan bangunan pasar yang baru saja selesai Pak," jawab Ajo (35 tahun) - panggilan punya warung - menjawab pertanyaan penasaran dari salah satu tim ARN.

"Karena dalam tahap pengerjaan kami yang sebelumnya di sana (sambil menunjuk ke lokasi tak jauh dari lokasi sekarang, red) diberikan tempat sementara untuk tetap berjualan, Pak.Tempat ini dipinjamkan kepada kami untuk sementara oleh pihak Nagari, Pak," tambahnya lagi sambil mengocok telur ayam pesanan salah satu pelanggannya.

"Di sini itu pekerjaan kami selain menjadi nelayan juga berdagang seperti ini," sahut salah seorang pria (45) pelanggan warung menimpali.

"Kalau pagi di sini itu berjualan Lontong dan warung di sampingnya juga berjualan Lontong namun demikian, sekalipun sama bentuk jualannya, tidak ada saling terjadi iri hati. Bahkan kadang-kadang setelah makan Lontong di tempat sana, biasa saja orang itu duduk untuk memesan kopi di tempat ini. Padahal di sini juga ada menjual Lontong. Bagi kami di sini itu sudah hal yang biasa. Jika malam, gantian lagi yang berjualan, seperti Ajo ini yang baru buka warungnya setelah Magrib. Begitulah kami di sini, Pak, saling mendukung," tambahnya lagi.

Di sepanjang jalan di kampungnya Syech Burhanudin tersebut memang kita bisa lihat hampir seluruhnya menjual Keripik Udang, Kepiting, Sala Lauk, dll. Melihat ini semua kamipun percaya dengan apa yang dijelaskan Abang tadi. Bahwasanya saling mendukung dan jauhnya sifat iri dengki di antara kalangan pedagang di Ulakan ini memang benar adanya.

"Pihak Nagari selalu mendukung para warga terlebih kita-kita yang berdagang. Sehingga tempatpun disediakan kepada kami sampai pasar baru itu beroperasi lagi," tambah Ajo lagi.

"Yang datang ke tempat ini baik sekedar singgah seperti Bapak-Bapak ini sekarang maupun yang datang untuk membeli oleh-oleh ciri khas kita seperti Sala dan Keripik itu, kami bertanggungjawab sebagai warga setempat untuk membuat pengunjung nyaman selama berada disini," tegas Abang tadi yang sepertinya salah seorang yang cukup disegani di tempat tersebut melihat dari perlakuan dari para pengunjung lain terhadapnya.

Banyak ilmu yang didapatkan dari persinggahan sebentar kami di tempat itu. Nagari Ulakan tersebut mengajarkan kepada kita semua bagaimana cara bertahan hidup dari potensi wilayah yang ada. Orang-orang yang melewati jalur tersebut menuju Padang dan balik lagi di mana jalur ini adalah juga jalan alternatif dari jalan utama yang melewati Lubuk Alung. Lewat jalur ini jika dari arah Pasaman Barat menuju Padang bisa langsung menuju jembatan layang di Simpang Duku di perbatasan Padang Pariaman dan Kota Padang. 

Kita juga mendapatkan pelajaran bagaimana saling mendukung sesama pedagang. Dan yang paling penting, bagaimana pihak Pemerintah seperti Wali Nagarinya mau dan rela tertutup halaman kantornya hanya untuk memperjuangkan kelangsungan hidup para Pedagang yang tempat biasanya mencari nafkah belum bisa ditempati karena pembangunan tapi dengan bijak pihak Pemerintahan Nagari memfasilitasi mereka dengan sebaik-baiknya. 

Benarlah tulisan di atas pintu Kantor Wali Nagari tersebut menurut kami.
Sebelum pulang ke Pasaman Barat kami membeli oleh-oleh Sala lauk, Keripik Udang dan Kepiting Goreng untuk dimakan bersama anak-anak kami nanti sambil menceritakan betapa hebatnya kebersamaan di tempat yang suatu saat bakal mereka singgahi jua, barangkali?

Kami segera pamit kepada Ajo si pemilik warung, kepada Abang yang tidak sempat bertanya nama itu saking semangatnya memberitahu kami tentang kampungnya, dan kepada pengunjung warung lainnya yang sedari tadi selalu tersenyum disetiap tatapan kami saling beradu.

Angin Pariaman malam itu membawa pesan, "cepat pulang, Ayah" bagaikan bisik anak-anak kami di rumah,  yang sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk mengunyah Sala Lauk sambil mendengarkan cerita para Ayahnya tentang perjalanan hari ini.[]

Penulis : Novis Satria