Mudik, Tradisi yang Tak Aus Digilas Zaman -->

Mudik, Tradisi yang Tak Aus Digilas Zaman

Friday, 9 April 2021

Sumber foto: Wikipedia

TAHUN 2021 ini, Pemerintah kembali mengeluarkan peraturan tentang larangan mudik lebaran terkait upaya pencegahan penyebaran pandemi COVID-19. Alhasil banyak masyarakat yang meradang. Seolah lupa jika aturan tersebut bertolak dari maksud baik Pemerintah, menjaga kondisi kesehatan masyakarakat dan ancaman terpapar virus COVID-19. Semua tahu bahwa saat ini negara kita Indonesia belum sepenuhnya terbebas dari pandemi yang sudah menahun itu. 

Dari penelusuran media ARN, dilansir dari Wikipedia, asal mula dari kata tradisi “Mudik” ada beberapa versi.  Pengertian mudik menurut Wikipedia, mengartikan mudik sebagai kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halamannya

Asal usul dari tradisi mudik yang lebih banyak dipercaya adalah bahwa mudik sudah terjadi sejak sebelum zaman kerajaan Majapahit.

Tradisi mudik dilakukan oleh para petani Jawa, karena pada zaman kerajaan, orang-orang yang merantau akan pulang ke kampung halaman masing-masing untuk membersihkan makam leluhurnya, dan kata “Mudik” merupakan singkatan dari kata Bahasa Jawa. kata ini adalah “mulih dilik” yang berarti pulang kampung sebentar.

Istilah mudik lebaran disinyalir baru muncul pada tahun 1970-an, ketika Jakarta masih merupakan satu-satunya kota besar di Indonesia.

Banyak orang desa yang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dan mengubah nasib. Dan bagi yang sudah mendapatkan pekerjaan, mereka akan mendapatkan libur panjang yang biasanya jatuh pada hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri. Nah, semenjak itu tradisi mudik lebaran menjadi hal yang penting dijadwalkan saban tahun. 

Baru-baru ini, ARN membuat semacam survei pengamatan minat masyarakat terhadap isu pelarangan mudik, yang diunggah di media sosial. Hasilnya ternyata sangat menarik. 
Ada lima pertanyaan terkait mudik yang dilempar kepada publik, yaitu: 
1. Sebetulnya buat apa mudik lebaran? 
2. Apakah karena kita sukses lalu orang kampung tidak? 
3. Apakah karena kita harus terus dipandang kaya oleh orang kampung, Harus mempertunjukkan kehebatan dan kekayaan kita tiap hari lebaran di kampung? 
4. Apa esensi mudik lebaran di zaman sekarang?
5. Betulkah disebabkan oleh kerinduan yang tak terpatahkan lagi?

Lima pertanyaan tersebut dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian warganet. Hasilnya macam-macam. Ada yang menjawab dengan kalimat yang baik, tenang dan sistematis. Ada yang menjawab singkat, dengan nada marah. Ada yang tidak bisa menahan emosi kemarahan. Ada yang menjawab dengan baik. Dan malah ada yang mengomentari dengan nada mengancam. Semua jawaban itu dikumpulkan untuk ditarik kesimpulannya. 

Misalnya jawaban yang diberikan oleh seorang Warganet, sebut saja Rani seorang Wartawan. 
" 😂😂kalau pribadi Rani, mungkin waktu lebaran waktu libur mereka banyak, uang mereka banyak, kangen mereka banyak, waktu spesial juga mungkin. 
Bersyukur kita bagi yang dekat dengan sanak famili, bersyukur kita punya waktu setiap saat mengunjungi keluarga.
Empati Rani bagi yang jauh dari keluarga,
Sedih memang ketika sanak keluarga jauh di rantau. 
Mohon maaf Bang, karena mau masuk puasa," tulis Rani di kolom komentar. 

Lain lagi Warganet sebut saja Bang Lubis, ia mengomentari begini,
"Hanya jarak yang bisa menjawab." Lalu ditimpali Arya warganet yang merantau di Kalimantan, "Mungkin butuh lokasi kerja yang lebih jauh untuk menjawabnya, Kanda😂".

Beberapa jawaban Warganet sangat menarik untuk ditelaah. Seperti satu ini, dari Laila (bukan nama sebenarnya) yang merantau di Jogjakarta, "bagi kami yang perantau hanya pada saat lebaran bisa kumpul dengan sanak keluarga yang hanya kami dapatkan sekali setahun karna saat lebaran kami yang hanya buruh di rantau ini dapat mengambil cuti lebaran  bukan ingin dipandang sebagai orang kaya atau mampu dimata orang lain tpi ingin menumpahkan rindu kepada orang tua kami dan anak2 kami kepada kakek neneknya dan saudara2 nya mungkin bagi orang yg tingal dekat dengan kampung mudik tidaklah begitu berarti tpi bgi kami lebih berarti dri sekedar liburan maaf klo ada yg salah."

Dari Suryadi, "Dari 5 pertanyaan, yg no 5 itulah Jawabannya, Mudik Lebaran Khususnya bagi Muslim adalah salah satu cara utk melestarikan Budaya Bangsa Ketimuran, kumpul bersama Keluarga yg sdh di tinggal ber bulan bahkan ber tahun, adalah Moment yg sangat di tunggu, namun dgn adanya Wabah seperti sekarang ini kita para Perantau harus bisa menyadari efek Negatif dari Mudik tsb, namun tdk berarti Kebudayaan kita harus hilang karena Pandemi."

Jantiak Maniak menuliskan begini, "Tolak ukur kemapanan ekonomi ketika bisa mudik tiap tahunnya mungkin." 
 
Dan satu lagi yang boleh kita kutip, dari Fatma Dewi, ia mengomentari. 
 "Pulang lebaran / mudik tujuan utamanya berkumpul dengan keluarga, karena mendengar takbiran dirantau orang dalam keadaan berpisah dengan keluarga, itu adalah kesedihan terbesar bagi kita perantau."

Mudik sudah menjadi tradisi mendarah daging. Tidak mudik pada hari lebaran artinya meniadakan tradisi penting. Namun, dalam kondisi darurat beberapa hal penting bisa saja bukan prioritas. Maka mari bekerja dan berdoa kiranya kondisi semakin sehat dan baik. Agar kita semua bisa meneruskan tradisi yang baik bangsa kita Indonesia. 

Terimakasih untuk semua jawaban dan diskusi terkait esensi mudik pada saat lebaran. 
Intinya bagi bangsa kita, Mudik itu sejatinya penting. Sebab silaturahmi adalah darah dan daging kita. Apalagi bagi kita yang berkehidupan jauh di perantauan. Momen lebaran menjadi sesuatu yang langka, bagaimana caranya kita kembali ke rumah yang sebenarnya. Sejenak menikmati keramahtamahan handai taulan dan keluarga 'saparuik'. 
Semoga pandemi segera berlalu. Agar kita bisa meneruskan tradisi bernilai baik ini. Apapun alasannya untuk tetap mudik, yang penting jadilah perantau yang bermanfaat terutama bagi sanak famili di kampung halaman dan bagi korong kampuang dan nagari. Menjadi inspirasi keberhasilan bagi anak nagari. 
Salam hormat bagi perantau, terutama yang - dengan pelbagai alasan - tidak memperoleh kesempatan untuk mudik tahun ini. Bersabarlah, semoga ada cara lain untuk menebus kerinduan kepada Dunsanak di kampung halaman. Kerinduan kepada aroma tanah, hutan dan sungai di kampung. 

Ah, bau rendang sudah mulai merasuk pikiran. Kita sudah diambang bulan puasa Ramadan rupanya. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin. []

Redaksi andalasrayanews.com