Nyamuk - Nyamuk di Hutan Kota dan Taman Satwa Pasaman Barat -->

Nyamuk - Nyamuk di Hutan Kota dan Taman Satwa Pasaman Barat

Saturday, 10 April 2021

ALYA, Lintang dan Nala melihat-lihat Hutan Kota dan Taman Marga Satwa Pasaman Barat di Padang Tujuh. Libur awal puasa Ramadan telah tiba. Alya si Uni dapat kelapangan boleh pulang dari asrama. Sedangkan Lintang yang sehari kemarin disibukkan oleh kegiatan Market Day di sekolahnya juga dapat jatah libur. Sedangkan Nala si Bungsu belum sekolah. 

Sepekan ini pembicaraan di rumah selalu soal kunjungan ke kebun binatang. Alya si Uni telah diwanti - wanti perihal ini sejak dalam komunikasi video call. Terbayang keasyikan bercengkrama dengan hewan dan melihat aktifitas dunia kehewanan.
 
Mereka belum pernah ke Taman Satwa Pasaman Barat. Dan karena belum pernah itu, ketika saya coba jelaskan bahwa Taman Satwa Pasaman Barat tidak seperti kebun binatang Kinantan Bukittinggi atau sebagaimana yang mereka bayangkan (dan sudah mereka reka pula dalam bentuk maket dari kertas karton!), tetapi tetap saja saya tidak dipercaya😭😂 
Namanya juga anak-anak, rasa penasarannya sungguh besar. Ya sudahlah. 

Sabtu pagi kami ke Hutan Kota dan Taman Satwa. Suasananya adem khas hutan tropis. Pohon-pohon ada yang tumbang. Barangkali sebab angin kencang beberapa hari lalu. Ada penunjuk arah Jalan Buaya, Jalan Beruang, Jalan Ular, Jalan Kancil. Ada tanaman perdu dan rumput. Kami menghirup napas dengan oksigen yang melimpah. 

"Mana Beruangnya?" sergah Lintang saat menelusuri Jalan Beruang. Ada dua kandang besar di sana. Di dalam salah satu kandang bergelayut sendirian seekor Siamang. "Tak ada Beruang?" tanya Lintang lagi. Saya mendadak takut. Jangan-jangan Beruangnya bukan di dalam kandang tapi... 

"Ha, ayo kita foto-foto dulu, di sana," alih saya sembari menunjuk plang nama raksasa berwujud huruf sebagaimana yang tren dibangun hampir pada tiap tempat wisata "HUTAN KOTA DAN TAMAN SATWA PASAMAN BARAT" berwarna merah, putih dan hitam. 

Anak-anak sigap mengambil posisi. Saya memotret dan merasa lucu. Wah, besar juga huruf-huruf itu. Anak-anak jadi kelihatan liliput. 

Selepas acara memotret, saya ajak jalan lagi, kembali ke persimpangan jalan semula dan kami berjalan ke arah kanan yang menurun tapi tidak landai. Di sebelah kanan ada Jalan Ular dan agaknya tepat menuju ke sebuah kandang kecil mirip lampu antik di dalam cerita dongeng tempat menaruh pelita yang ditaruh di luar istana. 

"Ga ada Ularnya, kan?" tanya Alya si Uni. 
"Jangan-jangan pagi ini para binatang di sini sedang di luar kandang nih.. Makanya sepi saja," kata saya setengah bercanda. 
"Ah... Ayah ini. Ga lucu ah..," renggut Si Uni. 

Lintang sudah sedikit jauh di depan. Sepelemparan batu ada kolam ikan. Terlihat semacam gazebo untuk tempat berteduh dan duduk. Barangkali diperuntukkan bagi Pemancing. Tetapi, saya ragu apakah ada ikan yang hidup di dalam kolam tersebut.

"Ada Buaya di situ barangkali, Yah," ujar Lintang. Tetapi saya tidak melihat ada apapun di dalam kolam selain dedaun busuk, bebatu lumutan dan air butek. Yang paling bisa hidup di dalamnya barangkali ikan Gabus atau Lele. Sebentuk pancing saya lihat sedang dipasang. Bukan pancing bagus seperti punya pemancing Youtuber kaya. Hanya kayu kecil sebagaimana dulu waktu kanak-kanak kita pakai kalau ngebet ingin memancing. Atau barangkali itu bukanlah pancing. Hanya ranting patah yang gagal jatuh menyentuh tanah. 

Anak-anak mengedarkan pandangan ke sekitar. Terdengar lamat-lamat suara burung tetapi menurut perhitungan saya terkait kecepatan gelombang bunyi dan jarak, burung yang sedang bersuara riang itu ada di tengah kebun Jagung yang berada beberapa langkah di depan sana. 

"Pulang yuk.." ajak saya. 

Tiba-tiba Nyamuk semakin ramai mengerumuni kami. Menurut kepercayaan yang saya pahami dari kecil, jika engkau sedang di dalam hutan dan Nyamuk mendadak mengerumuni kalian semakin banyak, itu pertanda Inyiak Balang sedang mendekat. 

Saya lihat lengan Lintang sudah bentol kemerahan pertanda seekor Nyamuk berhasil mendarat di kulitnya lalu menembuskan belalai yang mungil tajam ke bawah kulit. Mungkin sudah pula mengisap setetes dua tetes darah Lintang. Memberi makan Nyamuk di Hutan Kota dan Taman Satwa, batin saya menggelitik lalu tersenyum pedih. 

Dalam diam, saya dan ketiga generasi penerus harapan bangsa itu beranjak menuju gerbang tempat mobil parkir. Masih sempat Nala mengeluhkan kakinya capek tapi langsung diledek Alya si Uni. Lintang telah setengah berlari menuju mobil. Saya menyapa seseorang yang sedang asyik mengumpulkan kayu di depan pos penjaga. Sebelumnya ia sempat meminta korek api kepada saya untuk menyelai rokok. 

Pagi telah beranjak menuju siang tengah hari. Panas matahari kian meruyak. Berdengkang. Menguarkan keinginan kebaikan bagi fasilitas publik ini di masa yang akan datang.[]

Penulis: Denni Meilizon